KABUT BULAN DESEMBER
UMUM
Medeo Abu Dhabi,
Januari, 2020
Seperti biasa, setiap bulan
Desember datang, akan muncul artikel, perdebatan ataupun nasehat tentang
mengucapkan "Selamat Natal" oleh Muslimin kepada umat Kristiani.
Walaupun kejadian polemik itu sudah berulang-ulang setiap tahunnya, namun karena ada
perbedaan pendapat, maka polemik itu akan masih nyaman untuk dikonsumsi. Memang
tidak bisa menyalahkan keadaan ini karena tidak ada nukilan yang menyatakan
dengan jelas tentang diperbolehkan, diharamkan ataupun dimakruhkan dalam
mengucapkan “Selamat Hari Besar” kepada penganut agama lain yang berhubungan dengan
keimanan mereka. Hal ini yang menimbulkan suatu perdebatan berkepanjangan, bahkan
mungkin tanpa akhir. Hal ini akan lebih menyita perhatian dikarenakan adanya
istilah, “toleransi”, “radikal”,”ekstrimis” dan semacamnya. Dan tidak kalah
pentingnya karena adanya gesekan-gesekan di masyarakat akibat adanya beberapa
peristiwa seperti mengharuskan penjaga toko memakai topi “Santa Klaus”,
memajang “Pohon Natal” di tempat-temoat umum terutama dengan atribut mencolok atau
ukuran yang super, dan lain sebagainya. Hal itu akan menimbulkan kecemburuan,
ataupun gesekan lainnya seperti adanya sweeping, pembongkaran paksa
terhadap atribut yang dipajang, pemrotesan dan lain sebagainya.
Bagi kelompok yang lain justru
melakukan sebalknya. Ada yang menjaga agar perayaan Natal dapat berjalan
lancar, maka pihaknya ikut menjaga tempat-tempat ibadah para Kristiani. Tentu
ada pula kelompok yang tidak memperdulikannya, mengucapkan “Selamat” atau tidak
bukan urusan pribadinya, biarlah, kalau mereka mengucapkan “Selamat” kepada
kami ketika kami merayakan Hari Besar kami, maka kami akan melakukan hal yang
sama ketika mereka sedang merayakan Hari Besar mereka, kalau tidak ya.., semau
saya saja.
Dari
keterangan di atas, lalu bagaimana sikap yang harus dilakukan, mengikuti yang kanan
atau yang kiri, atau mengikuti yang di tengah-tengah saja..
Untuk
menentukan sikap, maka marilah kita simak penjelasan di bawah. Akan tetapi,
sikap terakhir yang akan ditempuh, sepenuhnya keputusan masing-masing individu,
karena keyakinan bagaikan warna batu yang tersebar di dasar sungai, mereka tak
akan berubah warnanya walau sudah dikeluarkan ke atas daratan, kecuali ada
beban paksaan.
IMAN
Iman itu menurut bukti-bukti yang
ada memiliki arti, suatu kepercayaan terhadap sesuatu yang masuk akal, akan
tetapi pembuktiannya (baca benar atau tidaknya) hanya dapat dilihat kelak
ketika berada di alam akhirat. Jadi, kalau ada yang mengimani sesuatu berarti
dia tidak bisa mengeklaim bahwa keimanan yang berbeda dari orang lain tentang
sesuatu yang sama adalah salah, karena benar atau salahnya nanti diketahui
ketika sama-sama di akhirat.
YAKIN
Yakin itu berarti bukan iman, melainkan mempercayai sesuatu yang masuk akal, akan tetapi pembuktiannya (baca benar tidaknya) dapat dibuktikan di alam kehidupan saja. Seperti meyakini terhadap keberakhiran (baca kematian), bukan Hari Akhir (baca kiamat).
YAKIN
Yakin itu berarti bukan iman, melainkan mempercayai sesuatu yang masuk akal, akan tetapi pembuktiannya (baca benar tidaknya) dapat dibuktikan di alam kehidupan saja. Seperti meyakini terhadap keberakhiran (baca kematian), bukan Hari Akhir (baca kiamat).
AKAL
Akal adalah perangkat lunak yang
berada di dalam otak (baca otak adalah hardware dan akal adalah software-nya, ketika bekerja dinamakan berpikir). Akal ini
membenarkan sesuatu apabila sesuatu itu logis. Untuk itu orang sering berkata,
masuk akal yang berarti logis dan sebaliknya.
IMAN DAN AKAL
Ada yang mengatakan bahwa, keimanan
tanpa adanya akal, maka keimanan tidaklah sempurna bahkan sama dengan orang
buta, demikian pula akal tanpa keimanan akan sangat berbahaya. Jadi, keduanya
harus berjalan bersama-sama. Berjalan bersama itu memang suatu keharusan,
karena iman menuntut sesuatu kelogisan yang hanya disetujui oleh akal walaupun
pembuktiannya tidak bisa di dunia ini. Jadi, ungkapan di awal tentang akal dan
iman itu sangat benar sekali, harus berjalan bersama-sama.
Akan tetapi, ada orang yang
mengatakan bahwa, iman itu tidak memerlukan akal, apa yang termaktub di dalam Kitab Suci untuk diimani saja, maka ikuti saja tanpa harus menggunakan akal. Di
sinilah kelemahannya apabila keimanan tidak diikuti oleh akal. Akal ibaratnya
merupakan sebuah pengunci untuk suatu pintu ruang keimanan. Artinya,
keimanan itu akan mudah terbuka (baca gampang goyah) apabila tidak dilandasi
akal. Ungkapan ini seolah mengatakan, apabila mempercayai sesuatu yang
kebenarannya hanya dibuktikan kelak di akhirat, pakailah akal. Apabila akal
berpendapat setuju dengan yang sedang diimani, maka keimanan itu akan kuat
sekali karena sudah dikunci oleh akal. Lain halnya apabila iman itu didasari atas ikut-ikutan saja, misalnya sesuai penafsiran si Fulan yang ahli agama, karena apabila ada si Fulan yang lain yang sama-sama mashur tentang keahlian dalam bidang agama yang memiliki pendapat berbeda, maka ini akan menggoyahkan keimanan seseorang. Akibat darinya adalah keimanannya akan berubah-ubah tergantung kebutuhan, apabila situasinya sesuai dengan pendapat si Fulan, maka akan memakai cara si Fulan, akan tetapi apabila situasinya sesuai dengan si Fulan yang lain, maka akan memakai pendapat si Fulan yang lain.
UCAPAN SELAMAT NATAL
Di Medsos sudah banyak beredar
tentang topik ucapan ini dari ummat Islam terhadap Kristiani. Ada yang
menganalogikan begini (disalin dari WAG yang konon dibuat oleh Ustad Aa Gym);
----- Awal Penyalinan-----
Kupasan berdasarkan ilmu TAUHID...
🗣Bila kita mengucapkan..
... kalimat *SELAMAT ULANG TAHUN*
kepada seseorang, berarti *kita mengakui* bahwa dia lahir di tanggal
itu..
🗣Bila kita mengucapkan...
...kalimat *SELAMAT ATAS PELANTIKAN
JABATAN,* berarti kita mengakui *dirinya sebagai pejabat baru...*
🗣Bila kita mengucapkan...
...kalimat *SELAMAT ATAS KEMENANGAN
PERTANDINGAN,* berarti kita *mengakui lawan sebagai pemenang...*
Ternyata kata *SELAMAT* bermakna
*PENGAKUAN*
Kalau banyak pertanyaan, bukankah
mengucapkan *SELAMAT NATAL* hanya merupakan sebuah *ucapan* saja...
*⚠Wahai saudaraku,❗*
...Seorang muslim dinilai dari
*ucapannya...*
Bukankah *SYAHADAT* juga hanya
*UCAPAN..?*
..tapi mengapa setelah berucap
*SYAHADAT* ...seseorang menjadi *muslim...?*
Bukankah *BISMILLAH* juga *hanya
UCAPAN..?*
..tapi mengapa hewan yang
disembelih *tanpa mengucap BISMILLAAH, dagingnya haram* dimakan...?
Bukankah *AQAD NIKAH* juga
hanya *UCAPAN..?*
..tapi mengapa *setelah diucapkan,
suami halal menggauli istri* ...
Bukankah kata *CERAI* juga hanya
*UCAPAN*..?
..tapi mengapa bila suami
mengucapkan kata ini terhadap istrinya baik secara bercanda maupun tidak, maka
akan jatuh hukum *CERAI* bagi istrinya...
Saat kita mengucapkan *SELAMAT
NATAL* dan *TAHUN BARU*, atau hari raya agama lain, disitulah awal kita *MENGAKUI*
keberadan Tuhan lain yang berarti kita mengakui adanya beberapa Tuhan.
Berarti sudah tidak sesuai dengan
*SYAHADAT* yang diucapkan dan Surat Al Ikhlas ayat 1 serta beberapa ayat
lainnya.
Padahal meng-ingkari *1 AYAT
QUR'AN* saja...sudah dikategorikan sebagai orang kafir yang sebenar-benarnya...
_*"Merekalah orang-orang yang
kafir sebenar-benarnya..."*_
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 151
]
Inilah ayat-ayat yang menegaskan
*TERHAPUSNYA SYAHADAT* yang pernah diucapkan dikarenakan ucapan selamat hari
raya umat lain...
_*Sesungguhnya telah KAFIR lah
orang-orang yang berkata/mengakui, "Sesungguhnya ALLAH ialah Al Masih
putra Maryam, padahal Al Masih sendiri berkata " Hai Bani Israil,
sembahlah ALLAH Tuhan-ku danTuhan-mu..."*_
[ Qur'an Surat Al Maidah (5) ayat
72 ]
_*"...Janganlah kamu
mengatakan TUHAN itu tiga, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu.
Sesungguhnya ALLAH Tuhan yang Maha Esa. Maha Suci ALLAH dari mempunyai
anak..."*_
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 171
]
_*"Dan mereka berkata,
"Tuhan yang maha pemurah mempunyai anak". Sesungguhnya kamu telah
mendatangkan sesuatu perkara yang sangat MUNKAR"*_
[ Qur'an Surat Maryam (19) ayat
88-89 ]
Saudaraku umat Nasrani dan para
pendeta,
Perbedaan kita hanya pada nabi Isa,
padahal bagi kami Nabi Isa adalah salah satu Rasul yang utama.
Maafkan jika menyinggung hati, tapi
sungguh telah terbukti dalam Sejarah, bahwa tanggal 25 Desember itu hari
kelahiran Janus dan Mitra, Sang Dewa Matahari.
Bunda Maryam melahirkan Nabi Isa
disaat pohon kurma berbuah, yang berarti disaat musim panas tetapi 25 Desember
adalah musim dingin...
Wahai para pendeta dan
missionaris...
Kamipun meng-imani Injil yang
diturunkan kepada Nabi Isa...
Bahkan Nabi kami, Muhammad memiliki
paman dari istri yang seorang pendeta nasrani bernama Waraqah...
Jadi Islam sangat paham bagaimana
toleransi yang benar...
Wahai para penganut nasrani.
Silakan saja rayakan natal sesuai
keyakinan...
Karena bagi kami...
*"UNTUKMULAH AGAMAMU dan UNTUKULLAH AGAMAKU"*
Tapi tegas kusampaikan.
Jangan paksa pegawai muslim
berpakaian santa.
Sebagaimana kami tidak pernah pula
memaksa para misionaris menggunakan peci dan sorban disaat Iedul Fitri...
Jangan paksa undang pejabat muslim
hadiri natal di gereja...
Sebagaimana kami tidak pernah
memaksa para pendeta hadir pada Sholat Iedul Fitri...
🤗Saudaraku umat muslim,
*Silakan saja ucapkan SELAMAT
NATAL* ..
Silakan saja gunakan topi Santa...
*⚠Tapi jangan menyesal ...*
👌🏼bila Sholat kita batal.
👌🏼mati pun bukan sebagai muslim
*Karena SYAHADAT KITA SUDAH
GUGUR...*
------Akhir Penyalinan------
Dari ungkapan di atas menerangkan
bahwa, dilihat dari konsekwensi karena mengucapkan Selamat Natal,
sebenarnya tidak diperbolehkan. Mungkin karena ini
ditengarai ada hubungannya dengan aqidah.
LOGIKA
Semua orang Islam akan mengetahui
bahwa, bagi orang yang tadinya tidak beriman, lalu ingin masuk Islam, maka dia
harus mengucapkan/membaca dengan ucapan Dua Kalimat Sahadat. Ini menandakan
bahwa ucapan itu menentukan sekali dalam memasuki agama Islam. Demikian juga untuk menikah, lelaki harus mengucapkan "Kalimat Nikah". Dan juga untuk putus hubungan suami-istri, perlu mengucapkan ucapan "Talak".
Perlu diketahui bahwa, di dalam setiap individu manusia, akan ada dua bagian, yaitu jiwa dan raga. Jiwa wujudnya tersembunyi, sehingga apapun yang ada di dalam jiwa seseorang, tidak akan diketahui oleh orang lain. Sedangkan raga adalah nyata. Anehnya, terkadang apa yang ada di dalam jiwa sama dengan apa yang dilakukan oleh raga, dan ada pula, apa yang ada di dalam jiwa tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh raga.
Perlu diketahui bahwa, di dalam setiap individu manusia, akan ada dua bagian, yaitu jiwa dan raga. Jiwa wujudnya tersembunyi, sehingga apapun yang ada di dalam jiwa seseorang, tidak akan diketahui oleh orang lain. Sedangkan raga adalah nyata. Anehnya, terkadang apa yang ada di dalam jiwa sama dengan apa yang dilakukan oleh raga, dan ada pula, apa yang ada di dalam jiwa tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh raga.
Kembali kepada pengucapan di atas, ambil contoh ucapan Dua
Kalimat Syahadat tadi, maka sesungguhnya ucapan itu merupakan kepanjangan (extention) dari
apa yang ada di dalam jiwa seseorang. Seandainya ada orang yang memiliki jiwa tidak
beriman kepada Rukun Iman, lalu mengucapkan Dua Kalimat Syahadad, apakah orang itu syah masuk
Islamnya? Hal ini bisa terjadi terhadap seseorang yang memiliki motivasi lain
agar dianggap Islam. Ini artinya, orang itu bohongan, ethok-ethok (Bahasa
Jawanya) dalam masuk Islam. Sesuatu yang bohongan tentu tidak syah. Inilah Islam sesungguhnya, jiwa menentukan apa yang dilakukan oleh raga. Sholat ke
Masjid, tetapi dia tidak beriman. Pergi ke Gereja, tetapi dia tidak percaya
bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Itu adalah gugur perbuatannya.
Jadi, logikanya sama saja bagi
Muslim dalam hal mengucapkan "Selamat Natal". Kalau seseorang tidak
mengimani bahwa Yesus itu adalah Tuhan, lalu ia mengucapkan "Selamat Natal", maka sebenarnya dia itu sedang bbohong, dia itu
ethok-ethok. Tentu perbuatan berbohong itu tidak diperkenankan di dalam agama,
akan tetapi ada kalanya diperbolehkan untuk tujuan lebih mulia. Seperti misalnya ada seseorang yang lari ketakutan lalu masuk rumah anda dan mohon dia agar disembunyikan karena dikejar untuk dibunuh lalu orang itu bersembunyi di balik pintu rumah anda, maka ketika melihat si pengejar datang dan bertanya kepada anda, anda diperkenankan untuk berbohong kepada si pengejar demi untuk menyelamatkan yang sedang dikejar. Sehingga agar
rekan (kerja, bisnis, dlsb) anda merasa dihormati atau senang dan tetap memiliki relasi yang baik, maka ucapkanlah "Selamat Natal", karena sesungguhnya anda sedang berbohong demi tujuan yang baik.
END
Medeo Abu Dhabi,
Januari, 2020
Comments
Post a Comment