KABUT BULAN DESEMBER

 UMUM

Seperti biasa, setiap bulan Desember datang, akan muncul artikel, perdebatan ataupun nasehat tentang mengucapkan "Selamat Natal" oleh Muslimin kepada umat Kristiani. Walaupun kejadian polemik itu sudah berulang-ulang setiap tahunnya, namun karena ada perbedaan pendapat, maka polemik itu akan masih nyaman untuk dikonsumsi. Memang tidak bisa menyalahkan keadaan ini karena tidak ada nukilan yang menyatakan dengan jelas tentang diperbolehkan, diharamkan ataupun dimakruhkan dalam mengucapkan “Selamat Hari Besar” kepada penganut agama lain yang berhubungan dengan keimanan mereka. Hal ini yang menimbulkan suatu perdebatan berkepanjangan, bahkan mungkin tanpa akhir. Hal ini akan lebih menyita perhatian dikarenakan adanya istilah, “toleransi”, “radikal”,”ekstrimis” dan semacamnya. Dan tidak kalah pentingnya karena adanya gesekan-gesekan di masyarakat akibat adanya beberapa peristiwa seperti mengharuskan penjaga toko memakai topi “Santa Klaus”, memajang “Pohon Natal” di tempat-temoat umum terutama dengan atribut mencolok atau ukuran yang super, dan lain sebagainya. Hal itu akan menimbulkan kecemburuan, ataupun gesekan lainnya seperti adanya sweeping, pembongkaran paksa terhadap atribut yang dipajang, pemrotesan dan lain sebagainya.
Bagi kelompok yang lain justru melakukan sebalknya. Ada yang menjaga agar perayaan Natal dapat berjalan lancar, maka pihaknya ikut menjaga tempat-tempat ibadah para Kristiani. Tentu ada pula kelompok yang tidak memperdulikannya, mengucapkan “Selamat” atau tidak bukan urusan pribadinya, biarlah, kalau mereka mengucapkan “Selamat” kepada kami ketika kami merayakan Hari Besar kami, maka kami akan melakukan hal yang sama ketika mereka sedang merayakan Hari Besar mereka, kalau tidak ya.., semau saya saja.
Dari keterangan di atas, lalu bagaimana sikap yang harus dilakukan, mengikuti yang kanan atau yang kiri, atau mengikuti yang di tengah-tengah saja.. 
Untuk menentukan sikap, maka marilah kita simak penjelasan di bawah. Akan tetapi, sikap terakhir yang akan ditempuh, sepenuhnya keputusan masing-masing individu, karena keyakinan bagaikan warna batu yang tersebar di dasar sungai, mereka tak akan berubah warnanya walau sudah dikeluarkan ke atas daratan, kecuali ada beban paksaan.

IMAN

Iman itu menurut bukti-bukti yang ada memiliki arti, suatu kepercayaan terhadap sesuatu yang masuk akal, akan tetapi pembuktiannya (baca benar atau tidaknya) hanya dapat dilihat kelak ketika berada di alam akhirat. Jadi, kalau ada yang mengimani sesuatu berarti dia tidak bisa mengeklaim bahwa keimanan yang berbeda dari orang lain tentang sesuatu yang sama adalah salah, karena benar atau salahnya nanti diketahui ketika sama-sama di akhirat.

YAKIN

Yakin itu berarti bukan iman, melainkan mempercayai sesuatu yang masuk akal, akan tetapi pembuktiannya (baca benar tidaknya) dapat dibuktikan di alam kehidupan saja. Seperti meyakini terhadap keberakhiran (baca kematian), bukan Hari Akhir (baca kiamat).

AKAL

Akal adalah perangkat lunak yang berada di dalam otak (baca otak adalah hardware dan akal adalah software-nya, ketika bekerja dinamakan berpikir). Akal ini membenarkan sesuatu apabila sesuatu itu logis. Untuk itu orang sering berkata, masuk akal yang berarti logis dan sebaliknya.

IMAN DAN AKAL

Ada yang mengatakan bahwa, keimanan tanpa adanya akal, maka keimanan tidaklah sempurna bahkan sama dengan orang buta, demikian pula akal tanpa keimanan akan sangat berbahaya. Jadi, keduanya harus berjalan bersama-sama. Berjalan bersama itu memang suatu keharusan, karena iman menuntut sesuatu kelogisan yang hanya disetujui oleh akal walaupun pembuktiannya tidak bisa di dunia ini. Jadi, ungkapan di awal tentang akal dan iman itu sangat benar sekali, harus berjalan bersama-sama. 
Akan tetapi, ada orang yang mengatakan bahwa, iman itu tidak memerlukan akal, apa yang termaktub di dalam Kitab Suci untuk diimani saja, maka ikuti saja tanpa harus menggunakan akal. Di sinilah kelemahannya apabila keimanan tidak diikuti oleh akal. Akal ibaratnya merupakan sebuah pengunci untuk suatu pintu ruang keimanan.  Artinya, keimanan itu akan mudah terbuka (baca gampang goyah) apabila tidak dilandasi akal. Ungkapan ini seolah mengatakan, apabila mempercayai sesuatu yang kebenarannya hanya dibuktikan kelak di akhirat, pakailah akal. Apabila akal berpendapat setuju dengan yang sedang diimani, maka keimanan itu akan kuat sekali karena sudah dikunci oleh akal. Lain halnya apabila iman itu didasari atas ikut-ikutan saja, misalnya sesuai penafsiran si Fulan yang ahli agama, karena apabila ada si Fulan yang lain yang sama-sama mashur tentang keahlian dalam bidang agama yang memiliki pendapat berbeda, maka ini akan menggoyahkan keimanan seseorang. Akibat darinya adalah keimanannya akan berubah-ubah tergantung kebutuhan, apabila situasinya sesuai dengan pendapat si Fulan, maka akan memakai cara si Fulan, akan tetapi apabila situasinya sesuai dengan si Fulan yang lain, maka akan memakai pendapat si Fulan yang lain.

UCAPAN SELAMAT NATAL

Di Medsos sudah banyak beredar tentang topik ucapan ini dari ummat Islam terhadap Kristiani. Ada yang menganalogikan begini (disalin dari WAG yang konon dibuat oleh Ustad Aa Gym);

----- Awal Penyalinan-----

Kupasan berdasarkan ilmu TAUHID...
🗣Bila kita mengucapkan..
... kalimat *SELAMAT ULANG TAHUN* kepada seseorang, berarti *kita mengakui*  bahwa dia lahir di tanggal itu..
🗣Bila kita mengucapkan...
...kalimat *SELAMAT ATAS PELANTIKAN JABATAN,* berarti kita mengakui *dirinya sebagai pejabat baru...*
🗣Bila kita mengucapkan...
...kalimat *SELAMAT ATAS KEMENANGAN PERTANDINGAN,* berarti kita *mengakui lawan sebagai pemenang...*
Ternyata kata *SELAMAT* bermakna *PENGAKUAN*
Kalau banyak pertanyaan, bukankah mengucapkan *SELAMAT NATAL* hanya merupakan sebuah *ucapan* saja...
*Wahai saudaraku,*
...Seorang muslim dinilai dari *ucapannya...*
Bukankah *SYAHADAT* juga hanya *UCAPAN..?*
..tapi mengapa setelah berucap *SYAHADAT* ...seseorang menjadi  *muslim...?*
Bukankah *BISMILLAH* juga *hanya UCAPAN..?*
..tapi mengapa hewan yang disembelih *tanpa mengucap BISMILLAAH, dagingnya haram* dimakan...?
Bukankah *AQAD NIKAH* juga hanya  *UCAPAN..?*
..tapi mengapa *setelah diucapkan, suami halal menggauli istri* ...
Bukankah kata *CERAI* juga hanya *UCAPAN*..?
..tapi mengapa bila suami mengucapkan kata ini terhadap istrinya baik secara bercanda maupun tidak, maka akan jatuh hukum *CERAI* bagi istrinya...

Saat kita mengucapkan *SELAMAT NATAL* dan *TAHUN BARU*, atau hari raya agama lain, disitulah awal kita *MENGAKUI* keberadan Tuhan lain yang berarti kita mengakui adanya beberapa Tuhan.
Berarti sudah tidak sesuai dengan *SYAHADAT* yang diucapkan dan Surat Al Ikhlas ayat 1 serta beberapa ayat lainnya.
Padahal meng-ingkari *1 AYAT QUR'AN* saja...sudah dikategorikan sebagai orang kafir yang sebenar-benarnya...

_*"Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya..."*_
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 151 ]

Inilah ayat-ayat yang menegaskan *TERHAPUSNYA SYAHADAT* yang pernah diucapkan dikarenakan ucapan selamat hari raya umat lain...

_*Sesungguhnya telah KAFIR lah orang-orang yang berkata/mengakui, "Sesungguhnya ALLAH ialah Al Masih putra Maryam, padahal Al Masih sendiri berkata " Hai Bani Israil, sembahlah ALLAH Tuhan-ku danTuhan-mu..."*_
[ Qur'an Surat Al Maidah (5) ayat 72 ]

_*"...Janganlah kamu mengatakan TUHAN itu tiga, berhentilah dari ucapan itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya ALLAH Tuhan yang Maha Esa. Maha Suci ALLAH dari mempunyai anak..."*_
[ Qur'an Surat An Nisa (4) ayat 171 ]

_*"Dan mereka berkata, "Tuhan yang maha pemurah mempunyai anak". Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat MUNKAR"*_
[ Qur'an Surat Maryam (19) ayat 88-89 ]

Saudaraku umat Nasrani dan para pendeta,
Perbedaan kita hanya pada nabi Isa, padahal bagi kami Nabi Isa adalah salah satu Rasul yang utama.
Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah terbukti dalam Sejarah, bahwa tanggal 25 Desember itu hari kelahiran Janus dan Mitra, Sang Dewa Matahari. 
Bunda Maryam melahirkan Nabi Isa disaat pohon kurma berbuah, yang berarti disaat musim panas tetapi 25 Desember adalah musim dingin...

Wahai para pendeta dan missionaris...
Kamipun meng-imani Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa...
Bahkan Nabi kami, Muhammad memiliki paman dari istri yang seorang pendeta  nasrani bernama Waraqah...
Jadi Islam sangat paham bagaimana toleransi yang benar...

Wahai para penganut nasrani.
Silakan saja rayakan natal sesuai keyakinan...
Karena bagi kami...  *"UNTUKMULAH AGAMAMU dan UNTUKULLAH AGAMAKU"*

Tapi tegas kusampaikan.
Jangan paksa pegawai muslim berpakaian santa.
Sebagaimana kami tidak pernah pula memaksa para misionaris menggunakan peci dan sorban disaat Iedul Fitri...

Jangan paksa undang pejabat muslim hadiri natal di gereja...
Sebagaimana kami tidak pernah memaksa para pendeta hadir pada Sholat Iedul Fitri...

🤗Saudaraku umat muslim,
*Silakan saja ucapkan SELAMAT NATAL* ..
Silakan saja gunakan topi Santa...

*Tapi jangan menyesal ...*
👌🏼bila Sholat kita batal.
👌🏼mati pun bukan sebagai muslim
*Karena SYAHADAT KITA SUDAH GUGUR...*

------Akhir Penyalinan------

Dari ungkapan di atas menerangkan bahwa, dilihat dari konsekwensi karena mengucapkan Selamat Natal, sebenarnya  tidak diperbolehkan.  Mungkin karena ini ditengarai ada hubungannya dengan aqidah.

LOGIKA

Semua orang Islam akan mengetahui bahwa, bagi orang yang tadinya tidak beriman, lalu ingin masuk Islam, maka dia harus mengucapkan/membaca dengan ucapan Dua Kalimat Sahadat. Ini menandakan bahwa ucapan itu menentukan sekali dalam memasuki agama Islam.  Demikian juga untuk menikah, lelaki harus mengucapkan "Kalimat Nikah". Dan juga untuk putus hubungan suami-istri, perlu mengucapkan ucapan "Talak". 
Perlu diketahui bahwa, di dalam setiap individu manusia, akan ada dua bagian, yaitu jiwa dan raga. Jiwa wujudnya tersembunyi, sehingga apapun yang ada di dalam jiwa seseorang, tidak akan diketahui oleh orang lain. Sedangkan raga adalah nyata. Anehnya, terkadang apa yang ada di dalam jiwa sama dengan apa yang dilakukan oleh raga, dan ada pula, apa yang ada di dalam jiwa tidak sama dengan apa yang dilakukan oleh raga.
Kembali kepada pengucapan di atas, ambil contoh ucapan Dua Kalimat Syahadat tadi, maka sesungguhnya ucapan itu merupakan kepanjangan (extention) dari apa yang ada di dalam jiwa seseorang. Seandainya ada orang yang memiliki jiwa tidak beriman kepada Rukun Iman, lalu mengucapkan Dua Kalimat Syahadad, apakah orang itu syah masuk Islamnya? Hal ini bisa terjadi terhadap seseorang yang memiliki motivasi lain agar dianggap Islam. Ini artinya, orang itu bohongan, ethok-ethok (Bahasa Jawanya) dalam masuk Islam. Sesuatu yang bohongan tentu tidak syah. Inilah Islam sesungguhnya, jiwa menentukan apa yang dilakukan oleh raga. Sholat ke Masjid, tetapi dia tidak beriman. Pergi ke Gereja, tetapi dia tidak percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan. Itu adalah gugur perbuatannya. 
Jadi, logikanya sama saja bagi Muslim dalam hal mengucapkan "Selamat Natal". Kalau seseorang tidak mengimani bahwa Yesus itu adalah Tuhan, lalu ia mengucapkan "Selamat Natal", maka sebenarnya dia itu sedang bbohong, dia itu ethok-ethok. Tentu perbuatan berbohong itu tidak diperkenankan di dalam agama, akan tetapi ada kalanya diperbolehkan untuk tujuan lebih mulia. Seperti misalnya ada seseorang yang lari ketakutan lalu masuk rumah anda dan mohon dia agar disembunyikan karena dikejar untuk dibunuh lalu orang itu bersembunyi di balik pintu rumah anda, maka ketika melihat si pengejar datang dan bertanya kepada anda, anda diperkenankan untuk berbohong kepada si pengejar demi untuk menyelamatkan yang sedang dikejar. Sehingga agar rekan (kerja, bisnis, dlsb) anda merasa dihormati atau senang dan tetap memiliki relasi yang baik, maka ucapkanlah "Selamat Natal", karena sesungguhnya anda sedang berbohong demi tujuan yang baik.

END

Medeo Abu Dhabi,
Januari, 2020

Comments