BULAN RAMADAN

BULAN RAMADHAN
Oleh: Mr. Q.

Tulisan ini mencoba memberikan dasar filosofis tentang pluralitas penafsiran datang dan perginya Bulan Ramadhan. Dengan dasar ini diharapkan akan menambah keyakinan kita dalam menjalankan ibadah Puasa.

Barang siapa yang menyaksikan masuknya Bulan Ramadhan, hendaklah ia berpuara” (Q.S. 2:185).

Yang paling menarik untuk dibahas pada ayat tersebut di atas adalah firman-Nya yang berarti menyaksikan, karena selalu ada dua perbedaan pendapat dalam menentukan awal dan akhir ibadah puasa yaitu; satu golongan memakai cara hitungan (hisab) dalam melihat bulan, sedangkan yang lainnya dengan cara melihat dengan mata telanjang (rukyat). Kalau hasilnya berbeda akan berakibat kebingungan, terutama bagi umat Islam.

Mata dan Cahaya

Karena bulan mempunyai warna, rupa dan dimensi, maka bulan dapat divisualisasikan, akibatnya pada diri bulan berlaku hukum Sunnatullah, maka padanya pula akan berlaku suatu hukum keteraturan. Jadi, perangkat apapun yang digunakan untuk menyaksikannya atau mengetahui di mana bulan berada adalah “mata”. Mata saja tidak cukup dipakai untuk menyaksikan keberadaan bulan, maka sesungguhnya diperlukan “cahaya”.

Ketika si Fulan berkata kepada temannya bahwa, ‘Tadi malam aku bermimpi menyaksikan si Fulan yang lain sedang naik mobil’, teman si Fulan yang mendengarnya akan terkejut, karena sesungguhnya si Fulan yang lain sudah lama meninggal dunia. Tetapi, bagaimana si Fulan bisa melihat si Fulan yang lain?. Jawabannya adalah; si Fulan mempunyai ”mata” lain yang sedang terbuka di saat ia tidur, dan dibantu oleh suatu “cahaya” yang lain pula, sehingga ia dapat melihatnya.

Kalau kita simak hadist berikut:

Barang siapa yang melihat (mimpi) aku di saat tidur, maka ia benar-benar melihatku, karena setan tidak bisa menyerupaiku”.

Di saat tidur, sudah pasti mata tertutup dan umumnya dalam ruangan yang lampunya dimatikan alias gelap pula. Namun, bagaimana hadist tersebut bisa terjadi?. Sesungguhnya ada “mata” lain yang sedang terbuka dan siap melihat dan ada “cahaya” lain yang sedang bersinar dan siap untuk menerangi. Mata apa yang sedang terbuka di saat orang tidur kalau bukan mata hati nurani, lalu cahaya apa yang dapat menerangi agar mata hati dapat melihat Rasulullah SAW kalau bukan cahaya “cinta” yang kekuatannya tergantung bagaimana kita mengikuti apa yang beliau lakukan.

Firman Allah:

Maka ia menjelma di hadapanya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (Q.S. Maryam:17).

Surat ini menerangkan, bahwa malaikat Jibril AS dapat dilihat oleh Rasulullah S.A.W, tentu sinar apa yang membantunya melihat Jibril AS itu kalau bukan cahaya “Kenabian”?. Oleh karena itu Rasulullah S.A.W pernah mengatakan kepada sahabatnya, bahwa seseorang yang baru datang tadi, lalu pergi lagi adalah malaikat, tetapi para sahabat tidak mengetahuinya (baca tidak dapat membedakan) karena mereka tidak mempunyai”cahaya” kenabian.

Jadi, kesimpulannya “melihat” itu paling tidak ada tiga syarat yaitu, ada "sasaran (object)", ada “mata”, dan ada “cahaya”.

Berikut contoh sederhana bagaimana kalau salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak ada. Ketika seseorang memasuki suatu ruangan yang gelap (tanpa cahaya) yang tampak adalah kegelapan, tetapi dia akan terkejut ketika lampu-lampu di dalam ruangan itu dinyalakan, karena ternyata ia telah memasuki ke dalam suatu ruangan yang tertata dengan rapi dan diwarnai sesuai dengan kebutuhan dekorasi mutakhir.

Lalu bagaimana dengan Bulan Ramadhan?, “Mata” dan “cahaya” apa yang diperlukan agar dapat terlihat?.

Mari kita simak bagaimana cara kita menentukan salah satu waktu sholat.

Ketika waktu sholat Asyar datang, orang tidak perlu lagi mengambil barang, lalu diberdirikan di terik sinar matahari, untuk kemudian diukur panjang bayangannya, lalu dibandingkan dengan tinggi benda itu sendiri. Akan tetapi secara otomatis kita melihat jam. Mengapa begitu?. Jawabanya adalah; karena kita memerlukan matahari dalam menentukan datangnya waktu Asyar, yang mana matahari merupakan salah satu benda angkasa yang pergerakannya (baca peredarannya) menurut keteraturan, maka kedudukannya dapat dipastikan dengan perhitungan, yaitu waktu, dan itu akan tetap teratur seperti itu sampai hari kiamat, hal ini banyak tercantum didalam Alqur’an . Demikian pula halnya dengan bulan, kedudukannya dapat dipastikan.

Menyakskan

Perlukah "Menyaksikan" Memakai Mata Kepala? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis mencoba untuk menjawabnya melalui pendekatan agama juga.

Kalimat Syahadat:

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah”.

Kalimat Syahadat ini memakai kata kerja dasar yang sama dengan Alqur’an, Surat 2:185 di atas, yaitu syahada yang berarti saksi atau sertifikat, bedanya Kalimat Syahadat dipakai oleh seseorang terutama ketika ia untuk pertama kali memasuki/menjadi Islam, sedangkan Q.S 2:185 dipakai seseorang ketika umat muslim untuk pertama kali memasuki Bulan Ramadhan untuk kemudian berpuasa. Di sini sebetulnya kedua ayat itu memiliki kontek yang mirip, yaitu dipakai sebagai penyaksian, akan tetapi yang satu untuk keimanan, dan yang lainnya untuk menggantikan penglihatan atau visual.

Kalau disepakati bahwa Q.S 2:185 diartikan bahwa seseorang harus melihat dengan mata kepala tentang datangnya Bulan Ramadhan yang berarti bahwa ia sedang memasukinya untuk kemudian ia memulai berpuasa.

Lalu bagaimana dengan Kalimat Syahadat itu?. Adalah sesuatu yang mustahil melihat Allah SWT dan Muhammad Rasulullah SAW dengan mata kepala untuk kemudian ia masuk Islam. Melihat Zat Allah SWT di dunia ini adalah mustahil, sedangkan Rasulullah S.A.W. sudah lama wafat. Lalu bagaimana seseorang bersaksi seperti pada Kalimat Syahadat tsb.?. Caranya hanya dengan mempelajari Alqur’an kemudian ayat-ayatnya dicocokkan dengan kejadian-kejadian sesudah dan sebelumnya. Kemudian akan timbul suatu keimanan bahwa Alqur’an adalah benar-benar sebuah Kitab yang diturunkan (diwahyukan) oleh Tuhan yaitu Allah S.W.T. Kalau seseorang sudah mengimani bahwa Alqur’an itu merupakan wahyu dari Allah SWT, maka orang yang diberi wahyu itu merupakan utusan Allah SWT.

Jadi, bersaksi itu tidak harus memerlukan mata kepala dan keadaan terang, akan tetapi yang lebih utama adalah "akal" sebagai mata, dan "ilmu pengetahuan" sebagai cahaya, lalu dapat membangkitkan rasa keyakinan pada sesuatu, sehingga seseorang dapat bersaksi. Demikian juga dengan menyaksikan bulan, datangnya Bulan Ramadhan bagi seseorang yang berilmu berpengetahuan tentangnya akan mempunyai rasa yakin untuk bersaksi bahwa Bulan Ramadhan pasti datang sesuai dengan perhitungannya.

Sesungguhnya orang yang demikian ini mempunyai mata lain yaitu akal dan kemudian untuk melihat sasarannya dibantu oleh cahaya ilmu pengetahuan.

END

Medeo: Abu Dhabi 8/8/2006,
Email: Nasuki@Emirates.net.ae

Comments