BERSAMA TUHAN

BERSAMA TUHAN
Oleh : Nasuki

Ketika kehidupan seseorang sudah diwarnai dengan banyak harapan, maka sesungguhnya ia dihantui oleh banyak kekhawatiran. Ketika kecepatan sudah menjadi teman, maka sesungguhnya ketergesaan ikut pula menjadi kawan. Lalu orang bijak akan bilang, "Semakin tergesa-gesa, semakin berkurang pengendalian".

Kira-kira dua belas tahun lalu, ketika untuk pertama kali aku menginjakkan kaki di Abu Dhabi, semuanya terasa menakjubkan, sungguh sangat berbeda dengan kota asalku Surabaya, dengan banyak jalan kecil bergelombang dan berlubang, kebanyakan dilalui oleh angkutan umum, becak, sepeda, motor, dan mobil pribadi berumur lebih dari sepuluh tahunan, serta bangunan yang berdiri kecil-kecil dan tua, keadaan banyak mengesankan kesemerawutan daripada keteraturan, apalagi PKL lebih dominan daripada pedagang permanen.

Saat itu, aku memulai hidup baru di Abu Dhabi. Aku merasa, hampir seluruhnya benar-benar berbeda, sehingga aku berkata pada diriku sendiri; "Inilah saatnya!, aku memulai kehidupan baru, hidup yang dimulai dari jalan yang lebih baik, maka impian mencapai sasaran kehidupan yang baik akan menjadi lebih mulus".

Sebagaimana layaknya orang baru, banyak hal dilakukan dengan ragu-ragu dan sangat hati-hati, agar terhindar dari kesalahan. Kehidupan banyak dilalui dengan senyum, karena di sekeliling terasa lebih indah, ramah, dan sangat bersahabat, serta tenang. Aku masih ingat dulu, ketika pertokoan Cooperative di Tourist Club merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan terkenal di sini, selain KM Trading di Electra St. dan Emson Trading di Tourist Club. Jalan-jalan kebanyakan masih sepi. Pekikan klakson mobil hampir tidak pernah dibunyikan. Menyeberang jalan dapat dilakukan dengan mudah dimana saja. Demikian pula ketika membutuhkan taksi, sekali tengok langsung dapat dengan melambaikan tangan, dan taksipun akan berdatangan.

Kini aku larut dalam kehidupan Abu Dhabi, kehidupan ibu kota U.A.E, kota yang dibangun menjadi kota moderen, seperti layaknya kota-kota moderen lain di dunia. Mall dan Plaza ada dimana-mana, godaan promosi selalu datang bertubi-tubi, polisi lalu-lalang mengintai keadaan, radar lalulintas hampir terpasang disetiap persimpangan, kamera pengintai ada dimana-mana, dan kehadiran internet adalah wajib karena ia menjadi alat komunikasi dan sumber informasi yang paling diandalkan.

Kecelakaan lalulintas merupakan pemandangan biasa bagi pengendara. Hardikan dan cacian hampir dipastikan akan diterima oleh seseorang, walau sekecil apapun kesalahan yang dilakukan, sehingga kata-kata "suu hada?" berarti "apaan tu?" atau "antah mafi mukh?" berarti "kamu bodoh?", ataupun bahasa isyarat melambangkan kemarahan adalah suatu kelaziman.

Bunyi klakson dari kemarahan seorang sopir kepada sopir lainnya karena lambat menjalankan kendaraan merupakan hadiah yang sering dilakukan. Bunyi jeritan gesekan roda kendaraan dengan jalan akibat rem mendadak, atau berbelok dengan kecepatan tinggi tidak lagi dihiraukan orang. "I don't know" adalah jawaban yang dianggap lebih baik daripada kehilangan waktu menjawab pertanyaan orang yang sedang kesesatan. Sholat sunnah bukan lagi dikerjakan dengan menitan, melainkan lebih cepat dari taksi oleh sopir dari Pakistan.

Tak terasa aku sudah menjadi bagian kehidupan di sini, kehidupan yang selalu diwarnai dengan kemacetan lalulintas di jalan-jalan, kehidupan yang selalu dihantui oleh tempat parkir sebelum sampai tujuan. Akan tetapi, ada satu hal yang pasti, kesabaranku berangsur-angsur mulai menghilang, diganti oleh "stress" yang berujung pada kemarahan. Apalagi tugas-tugas yang ada banyak bergantung pada jalan dan kendaraan, ditambah beban pikiran naiknya harga bahan bakar, makanan, sewa flat dan lainnya, semuanya hanya menambah pusing tidak karuan.

Suatu hari pernah aku merenungkan keadaan, hingga aku mendapatkan sesuatu pokok permasalahan. Sesuatu yang telah lama aku tinggal dibelakang, maka aku menyimpulkan; Bahwa sesungguhnya jalan hidup yang sedang aku lalui untuk mencapai sasaran hidup yang pernah ku impikan, bukanlah terusan jalan yang pernah aku lalui dimasa silam. Lalu aku memulai mencoba membaca buku Tafsir Al-qur'an, waktu berlalu begitu saja, biasa saja, walaupun ada sedikit perubahan mulai aku rasakan, sampai kemudian aku terlena pada suatu ayat Tuhan, "Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar".

Sabar?, yaa.. sabar!, mengapa sabar?, Itulah salah satu sifatku yang telah banyak melayang. Sejak saat itu, aku mulai berusaha mencoba memperaktekkan melatih kesabaran lagi. Kata-kata; "sabar yaa akhi!", atau "sabar, sabar, …", atau "suai-suai", atau kata-kata lain, sampai-sampai istighfarpun terkadang aku ucapkan, agar dapat meredam bahkan menetralkan keadaan, manakala sedang mendapatkan kesalah-pahaman dengan seseorang, dan hal lain yang tidak aku inginkan.

Kini semuanya sungguh terasa sangat berbeda. Aku dapat larut dalam kehidupan kota moderen ini dengan perasaan jauh lebih tenang. Tiba-tiba kekhawatiran macetnya lalulintas jalan, ataupun tidak mendapatkan tempat parkir mobil lenyap begitu saja. Rasa pusing akibat naiknya harga-harga sudah tidak lagi menghantui diri, dan yang pasti, "stress" berangsur mulai menghilang, berganti dengan rasa tawakkal.

Kini aku yakin, bahwa aku telah menemukan kembali jalan yang pernah hilang, jalan hidup menuju sasaran yang pernah aku impikan, karena aku menyimpulkan; bahwa banyak cara yang pernah aku lakukan dan saksikan, adalah cara yang tidak disukai oleh Tuhan, karena banyak kesabaran telah terbang melayang.

Medeo: Abu Dhabi, 10/11/2006
Alamat penulis: Nasuki@emirates.net.ae

Comments